Rabu, 02 Maret 2016

kajian Prosa Makalah

TUGAS INDIVIDU
KAJIAN PROSA
Dr. A. Totok Priyadi
UNSUR-UNSUR YANG MEMBANGUN KARYA SASTRA (PROSA)



Oleh.
ANGGRAYNIE
F11412025









FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS TANJUNG PURA
PONTIANAK
2012

Unsur-Unsur Pembangunan Karya Sastra
A.    Pengantar
Materi unsur-unsur pembangunan karya sastra merupakan salah satu materi yang sangat berguna bagi kita karena di dalamnya membicarakan tentang struktur karya sastra sebagai sebuah karya fisik yang tentu saja terdiri atas beberapa hal yang harus saling berkaitan. Struktur pembangunan karya fisik tersebut terdiri atas (1) struktur luar atau yang dikenal dengan ekstrinsik, dan (2) struktur dalam atau yang lebihh populer disebut sebagai struktur instrinsik.
Struktur luar adalah segala macam unsure yang berada di luar karya sastra, tetapi kehadirannya sangat mempengaruhi cerita yang disajikan, misalnya faktor sosial politik, ekonomi dan kepengarangan, serta tata nilai yang dianut suatu masyarakat. Sementara itu, yang dimaksud dengan struktur dalam adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra itu sendiri, baik pada prosa, puisi, maupun drama.
Kedua struktur tersebut, baik struktur luar maupun struktur dalam, seperti penulis sebutkan tadi, merupakan unsur atau bagian yang secara fungsional saling berkaitan. Artinya, tidak ada satu unsur yang lebih penting kehadirannya dibandingkan dengan unsur lain atau tidak ada unsur yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. Satu hal yang mesti kita pahami adalah bahwa struktur yang ada dalam karya sastra haruslah dipandang dari satu sudut pandang tertentu. Struktur ekstrinsik , misalnya dianggap sebagai bagian dari struktur yang membangun sebuah karya fiksi bila struktur tersebut kita anggap mampu memberikan pengaruh terhadap keseluruhan struktur fiksi tersebut, terutama jika sebuah karya sastra yang sedang kita bahas dianggap sebagai mimesis atau cermin kehidupan. Dengan kata lain, struktur ekstrinsik dapat dibicarakan ketika memang sedang dikaitkan dengan karya sastra tertentu. Cerita pendek (cerpen) Robohnya Suami Kami, misalnya memiliki peran moral yang tinggi yang dilatarbelakangi falsafah hidup pengarangnya, yakni A.A Navis yang memang sangat religious. Selain itu, cerpen tersebut juga sangat kental dengan sosiokulutural Minangkabau yang menjadi latar belakang ceritanya.
Struktur ekstrinsik ini pada dasarnya merupakan pembahasan terhadap segi-segi yang menyangkut segala aspek kehidupan yang ditampilkan dalam karya sastra, pembahsannya pun akan terbatas pada struktur karya sastra secara umum. Hal ini berbeda dengan unsur instrinsik yang karena sifatnya berada dalam suatu karya sastra, pembahsannya dapat dilakukan secara lebih khusus. Untuk lebih jelasnya, pembahasan berikut ini akan menyajikan unsure-unsur pembangunan karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri.

B.     Unsur Intrinsik Prosa
Sebuah karya sastra berbentuk prosa dapat berupa novel, roman, novelet, cerpen dan beberapa istilah lain, yang pasti berisi sebuah cerita tentang kehidupan, khusus untuk anak-anak biasa dikelompokkan ke dalam cerita anak-anak. Sebuah karya prosa dibangun oleh unsure-unsur yang saling mendukung, yaitu tokoh, tema, alur, latar, gaya, dan pusat pengisahan. Secara garis besar, berikut ini adalah uraian tentang unsur-unsur karya prosa.
Adapun unsur intrinsik prosa terdiri atas sebagai berikut.
1)      Tema, yaitu suatu yang menjadi pokok masalah atau persoalan sebagai bahan karangan, yang diungkapkan dalam suatu cerita oleh pengarang. Tema prosa fiksi terutama novel dapat terdiri dari tema utama serta beberapa tema bawahan. Sedangkan untuk cerpen (cerita pendek) hanya memiliki  tema utama saja.
Untuk dapat menentukan tema suatu cerita kita dapat menempuh dengan jalan bertanya sebagai berikut.
a.       Mengapa pengarang menulis cerita tersebut?
b.      Apa tujuan pengarang menulis cerita tersebut?
c.       Faktor apa yang menyebabkan atau menjadikan suatu karangan bermutu dan berharga?
2)      Amanat, yaitu pesan-pesan yang disampaikan oleh si pengarang melalui cerita yang digubahnya. Si pengarang menyampaikan amanatnya dengan dua cara, yaitu:
a.       secara eksplisit (terang-terangan): pembaca dengan mudah menemukannya; dan
b.      secara implisit (tersirat/tersembunyi): untuk menemukan amanat dalam hal ini, pembaca agak sukar menemukannya, terlebih dulu pembaca hendaknya membaca secara keseluruhan isi cerita tersebut.
3)      Alur/plot, yaitu urutan atau kronologi peristiwa yang dilukiskan pengarang dalam suatu cerita rekaan, terjalin satu dengan yang lainnya. Alur dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut.
A.    Alur umum, tahap-tahapannya adalah sebagai berikut.
a)    Eksposisi (Perkenalan/Pengantar)
Eksposisi adalah proses penggarapan serta memperkenalkan informasi penting kepada para pembaca. Melalui eksposisi, seorang pengarang mulai melukiskan atau memaparkan suatu keadaan, baik keadaan alam maupun tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita tersebut, serta informasi-informasi yang akan diberikan pengarang kepada pembaca melalui uraian eksposisi tersebut.
b)      Komplikasi (Penampilan Masalah)
Komplikasi adalah adanya masalah yang terjadi di antara para tokoh, baik tokoh dengan tokoh, tokoh dengan tempat, maupun tokoh dengan suasana yang terdapat dalam cerita rekaan.
c)      Klimaks (Puncak Ketegangan)
Klimaks adalah suatu permasalahan yang telah mencapai pada puncaknya (meruncing).
d)     Antiklimaks (Ketegangan Menurun/peleraian)
Antiklimaks adalah suatu peristiwa yang ditandai dengan menurunnya tingkat permasalahan yang terjadi pada tokoh.
e)      Resolusi (Penyelesaian)
Resolusi adalah kejadian akhir yang merupakan penyelesaian permasalahan di atara para tokoh cerita.
B.     Berdasarkan cara menyusun tahapan-tahapan alur, maka dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a)      Alur Lurus (Alur Maju/Alur Agresif), yaitu rangkaian cerita dikisahkan dari awal hingga cerita berakhir tanpa mengulang kejadian yang telah lampau.
b)      Alur Sorot Balik (Alur Mundur/Alur Regresif/Flash Back), yaitu kebalikan dari alur lurus. Rangkaian ceritanya mengisahkan kembali tokoh pada waktu lampau.
c)      Alur Campuran, yaitu gabungan antara alur maju dan alur sorot balik.
C.     Berdasarkan hubungan tahapan-tahapan dalam alurnya, maka dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a)      Alur Rapat, yaitu alur yang terbentuk apabila alur pembantu mendukung alur pokoknya.
b)      Alur Renggang, yaitu sebaliknya, alur yang terbentuk apabila alur pokok tidak didukung oleh alur pembantu.
D.    Berdasarkan kuantitasnya, maka dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a)      Alur tunggal, yaitu alur yang hanya terjadi pada sebuah cerita yang memiliki satu jalan cerita saja, biasanya terjadi pada cerpen.
b)      Alur ganda, yaitu alur yang terjadi pada sebuah cerita yang memiliki jalan cerita lebih dari satu, biasanya ada pada novel.
4)      Tokoh, yaitu pelaku di dalam cerita dan mengambil peranan dalam setiap insiden-insiden. Tokoh terdiri atas sebagai berikut.
a)      Tokoh Protagonis (Tokoh Utama/Tokoh Sentral), yaitu tokoh yang paling berperan dalam cerita dan umumnya bersifat baik.
b)      Tokoh Antagonis (Lawan Peran Utama), yaitu tokoh yang menentang tokoh protagonis, umumnya memiliki sifat yang jahat.
c)      Tokoh Komplementer (Pembantu), yaitu tokoh sampingan yang berperan sebagai pembantu tokoh protagonis dan antagonis.
5)      Penokohan (Perwatakan), yaitu watak atau karakter dari para tokoh di dalam cerita. Adapun jenis penggambaran watak tokoh dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu:
a)      Metode analitik, yaitu pemaparan secara langsung (eksplisit) watak atau karakter para tokoh dalam cerita, seperti; penyayang, penyabar, keras kepala, baik hati, pemarah, dan lain sebagainya.
b)      Metode dramatik, yaitu metode penokohan yang dipergunakan pencerita dengan membiarkan para tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri lewat kata-kata, dan perbuatan mereka sendiri, misalnya lewat dialog, jalan pikiran tokoh, perasaan tokoh, perbuatan, sikap tokoh, lukisan fisik, dan sebagainya.
c)      Metode kontekstual, yaitu cara menyatakan watak tokoh melalui konteks verbal yang mengelilinginya. Jelasnya, melukiskan watak tokoh dengan jalan memberikan lingkungan yang mengelilingi tokoh, misalnya: kamarnya, rumahnya, tempat kerjanya, atau tempat di mana tokoh berada.
Watak tokoh terdiri dari sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Penokohan dapat dilakukan melalui dimensi (a) fisik, (b) psikis, dan (c) sosial.
6)      Latar (setting), yaitu mengenai lingkungan (tempat/lokasi, waktu, dan suasana) terjadinya suatu peristiwa di dalam cerita.
-      Tempat      :  umpamanya di rumah sakit, daerah wisata, di daerah
                     transmigran, di kantor, di kamar tidur, di halaman,
                     dan lain sebagainya.
-      Waktu       :  tahun, musim, masa perang, suatu upacara, masa
                     panen, periode sejarah, dan sebagainya.
-      Suasana     :  aman, damai, gawat, bergembira, berduka/
                     berkabung, kacau, galau, dan sebagainya.
7)      Sudut pandang (point of view), yaitu status atau kedudukan si pengarang dalam cerita. Ada empat macam sudut pandang, antara lain:
a)      pengarang sebagai orang pertama sebagai pelaku utama (pengarang = aku);
b)      pengarang sebagai orang pertama sebagai pelaku sampingan;
c)      pengarang berada di luar cerita sebagai orang ketiga; dan
d)     kombinasi atau campuran, kadang-kadang di dalam dan kadang-kadang di luar cerita.
8)      Gaya Bahasa (Majas) disebut juga “langgam, corak, bentuk, atau style bahasa” yaitu cara yang digunakan oleh si pengarang untuk mengungkapkan maksud dan dan tujuannya baik dalam bentuk kata, kelompok kata, atau kalimat. Jadi, gaya bahasa atau majas meliputi; kata, frasa atau kelompok kata, kalimat (struktur) biasa/majas. Gaya bahasa atau majas adalah ibarat kendaraaan bagi seseorang pengarang yang akan membawanya kemana arah tujuan yang ingin ditujunya. Gaya bahasa atau majas merupakan faktor dominan dalam karya prosa fiksi.
Unsur Ekstrinsik Karya Sastra
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berasal dari luar aspek sastra, yang ikut membangun penyusunan suatu karya sastra.
Unsur-unsur luar ini meliputi:
1.          Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi);
2.          Latar belakang kehidupan pengarang; dan
3.          Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan.



DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada 10 University Press.
Santosa, Wijaya Heru dan Sri Wahyuningtyas. 2010. Pengantar Apresiasi Prosa. Surakarta: Yuma Pustaka.
Sukada, Made. 1987. Beberapa Aspek tentang Sastra. Denpasar: Penerbit Kayumas & Yayasan Ilmu dan Seni Lesiba.
Tim Penyusun. 1994. Penataan, Penitian dan Pembinaan Apresiasi Sastra. Sebuah naskah berupa essai SMP Negeri 1 Manggis.
Pratiwi, yosi. 2013. artikel tentang unsure-unsur pembangunan karya sastra. http://yosipratiwi.blogspot.com/2013/01/artikel-tentang-unsur-unsur-pembangun.html, diunduh tanggal 31 september 2013 pukul 19.00

Maroon 5 - Won't Go Home Without You

Selasa, 17 November 2015

Ghaitsa Kenang - Matahariku

relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang (ujian praktik, 17 November 2015)



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah                       : SMP Islam Bawari
Mata Pelajaran            :Bahasa Indonesia
Kelas/Semester            :VII/1
Standar Kompetensi   : 5. Mengapresiasi pementasan dongeng yang diperdengarkan
Kopetensi dasar          : 5.2Menunjuk­kan relevansi isi dongeng yang diperde­ngarkan de­ngan situasi sekarang
Alokasi waktu             : 2x 40 menit ( 1x Pertemuan )
Indikator                    
1.      Mampu menemukan isi dongeng yang diperdengarkan
2.      Mampu merelevansikan isi dongeng dengan situasi sekarang
A.      Tujuan Pembelajaran
1.    Setelah diberikan contoh dongeng, Siswa dapat menemukan isi dongeng yang diperdengarkan.
2.    Setelah mendengarkan dongeng, Siswa dapat merelevansikan isi dongeng dengan situasi sekarang
B.      Materi Pembelajaran
1.         Cara menunjukan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang dan implementasi- nya.
2.         Pengertian dongeng
Dongeng adalah suatu kisah yang di angkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral, yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya. Dongeng memiliki nilai didik yang tinggi. Nilai didik tersebut dapat dihubungkan dengan situasi sekarang.
3.    Contoh:
 Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih
Tema : Perselisihan antara Bawang Merah dan Bawang Putih
Tokoh : Bawang Merah dan Bawang Putih
Alur : Maju
Perwatakan : Bawang Merah : Jahat
Bawang Putih : Baik, Sabar
4.    Deskripsi mengenai implementasi isi dongeng dalam masyarakat.
Relevansi isi dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih dalam kehidupan sekarang adalah setiap perbuatan akan menuai hasilnya. Orang yang berbuat baik akan mendapatkan balasan kebaikan begitu pula sebaliknya.
C.      Metode Pembelajaran
1.    Model     : Pembelajaran individu
2.    Metode   : Diskusi, Pemberian tugas dan Presentasi
D.      Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Awal
a.       Mengucapkan salam
b.      Mengecek kehadiran siswa
c.       Menginformasikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran
d.      Bertanya jawab dengan siswa tentang relevansi dongeng dengan situasi sekarang
Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru
a.       Menjelaskan secara singkat pengertian dan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang
b.      Memberikan contoh dongeng
c.       Bertanya jawab kepada siswa tentang relevansi dari contoh dongeng dengan situasi sekarang
d.      meminta siswa untuk menyebutkan isi dari dongeng yang diberikan
e.       memberikan kesempatan siswa untuk bertanya
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru
1.      membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 2 orang
2.      memberikan satu dongeng kepada tiap kelompok
3.      meminta siswa untuk membaca dan mendiskusikan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang kepada teman kelompok
4.      meminta siswa untuk merangkum isi dongeng yang diberikan
5.      meminta siswa membacakan hasil diskusinya sementara kelompok lain memberikan tanggapan
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru
1.    memberikan penguatan kepada seluruh siswa tentang hasil tugas yang dikerjakan
2.    memberikan penjelasan tentang implementasi isi dongeng yang diberikan dengan menyebutkan pesan moral dan menghubungkan dengan realitas sosial dimasyarakat.
3.    Memberi kesempatan kepada siswa untuk betanya terkait materi yang telah dipelajari
Kegiatan Akhir
Dalam kegiatan akhir, guru:
a.         Bersama-sama siswa menyimpulkan materi yang dipelajari
b.             Menginformasikan kegiatan pembelajaran berikutnya
E.      Sumber dan Media Pembelajaran
Sumber      :Buku paket bahasa dan sastra Indonesia kelas VII
Media        :Teks dongeng, power point
F.       Penilaian
             1.     Penilaian proses           :Mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung
             2.     Penilaian hasil              :Hasil tes siswa diskusi dalam kelompok
             3.     Seal atau instrumen     :Siswa menghubungkan relevansi dongeng dengan kehidupan sekarang

Rubrik penilaian proses
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Perolehan skor
1.
Keseriusan siswa dalam proses pembelajaran
1-5

2.
Keaktifan siswa dalam berdiskusi
1-5

3
Keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan
1-5

4.
Kualitasdaripertanyaan dan jawabansiswa
1-5




Rubrik penilaian Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Perolehan skor
1.
Ketepatan isi dongeng
1-5

2.
Kesesuaian isi dongeng dengan realitas sekarang.
1-5





Mengetahui                                                                             Pontianak, 17 November 2015
Guru Pamong                                                                          Mahasiswa PPL

Purwanti Rahayu, S.Pd.                                                          Anggraynie
                                                                                                 NIM: F11412025


Contoh dongeng
Semut dan Belalang
Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.
"Apa!" teriak sang Semut dengan terkejut, "tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?"
"Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan," keluh sang Belalang; "Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu."
Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.
"Membuat lagu katamu ya?" kata sang Semut, "Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!" Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Belalang lagi.
Relevansi isi dongeng tersebut dengan situasi sekarang adalah
1.      Setiap makhluk harus bekerja keras untuk bertahan hidup
2.      Ada saatnya bekerja dan ada saatnya bermain


Sepasang sandal kulit
Dahulu kala di daerah Lombok, hiduplah seorang raja yang bijak dan pemberani. Baginda Raja memiliki sepasang sandal dari kulit kerbau. Sandal kanan berasal dari kulit kerbau jantan dan sandal kiri dari kulit kerbau betina.

Konon, kedua sandal itu merupakan suami istri. Sandal jantan bernama Pogon dan sandal betina bernama Pigin. Kedua sandal itu bisa bercakap-cakap, walaupun hanya bisa didengar oleh mereka berdua saja.
Sandal ini sangat disayang Raja. Ke mana-mana, Raja selalu memakainya. Sandal tersebut kuat dan tahan air.
Setiap malam, seekor tikus serakah selalu mengintai sandal itu. Tampaknya si Tikus tergiur dengan bau sandal kulit tersebut.

"Istriku!" panggil sandal jantan kepada istrinya, "jika kita selalu diintip tikus yang kelaparan, kita bisa jadi mangsanya. Bagaimana kalau kita berdoa kepada dewa agar dijadikan tikus saja?"
"Kalau itu maumu, aku menurut saja!" sahut istrinya.

"Kalau kita jadi tikus, semua makanan sisa yang ada di dapur istana bisa kita santap berdua," tambah sandal jantan lagi. Sandal betina setuju dengan usul suaminya itu.

Mereka pun berdoa. Doa mereka terkabul. Berubahlah mereka menjadi dua ekor tikus besar. Kedua tikus itu sangat disegani oleh tikus-tikus lainnya.
Sepasang tikus itu selalu berkejaran di atap istana sehingga Raja merasa terganggu. Beliau lalu mencari kucing untuk menangkap tikus-tikus itu.

Sepasang tikus jelmaan itu mulai ketakutan. Akhirnya mereka berdoa di jadikan kucing saja . Doa mereka terkabul lagi. Berubahlah sepasang tikus itu menjadi kucing yang elok. Ratu sangat menyayangi kedua hewan itu.

Beberapa waktu kemudian, kedua kucing itu merasa iri pada anjing karena selalu diajak berburu. Akhirnya setelah berdoa, mereka pun menjadi sepasang anjing.
Setelah lama menjadi sepasang anjing berburu, mereka merasa lelah dan bosan. Mereka berdoa kepada Dewa agar menjadi Raja dan Ratu.
Kini, keduanya menjadi raja dan ratu. Mereka mendirikan kerajaan yang lebih besar. Akan tetapi, mereka belum puas juga. Keduanya ingin menguasai seluruh lombok.
Pendirian kerajaan baru ini terdengar oleh sang raja tempat mereka mengabdi dulu. Beliau merasa tersaingi dan terancam. Oleh karna itu, disusunlah rencana untuk menyerang kerajaan baru itu. Akhirnya, terjadilah pertempuran.
Kerajaan baru ternyata kalah . Mereka berdoa lagi agar dijadikan tikus kembali. Akan tetapi, dewa akhirnya mengubah mereka menjadi sepasang sandal seperti semula.

Latihan
1.      Tulislah unsur intrinsik dari dongeng sepasang sandal kulit
2.      Tulislah relevansi isi dongeng tersebut dengan situasi sekarang 
tulislah kembai dongeng tersebut dengan bahasa kalian